Kamu punya caramu. Ini caraku. - Nyovika

Senin, Desember 09, 2019

Koloni

Kemarin aku lihat kumpulan laron berterbangan. Itukah namanya koloni?

Dibawah cahaya lampu jalan disanding dengan pemandangan bulan warna putih yang hampir penuh.
Ada yang besar, dan ada yang kecil terlihat begitu ceria karna bertebangan dengan cepat atau karna beratnya lebih ringan, entah.
Juga kulihat beberapa yang tanggal sayapnya.

Kuarahkan pandanganku lebih lebar, terlihat berterbangan sayap tanpa tubuh yang semakin jauh tak terlihat karna tak tersorot cahaya lampu.
Ada apa?

Sayapmu ringan, tubuhmu sepertinya kuat menopang sedua sayapmu. Lalu kenapa mereka berhamburan?

Atau bukan berhamburan tapi sengaja kau lepaskan?
Lelah terbang dan memutuskan berjalan-jalan di dataran untuk hal-hal baru atau untuk menghidar dari kolonimu yang mungkin tidak sesuai dengan jalan pikiranmu.
 
Ah iya, aku memang suka menerka-nerka lewat mataku.
Bagaimanapun aku tidak punya cukup pengetahuan tentang apa yang kalian alami dan apa saja yang harus kalian lalui.

Malam yang cukup panas sebenarnya, tapi tidak cukup membosankan karena kalian dan pikiranku.







Read More

Sabtu, Desember 07, 2019

Hai, Gelas Kering.

Kamu bukan rumpang daun yang tak bisa utuh lagi. Kamu itu gelas kering yang perlu di isi air lagi. 

Kamu bukan tak bisa terlengkapi. Kamu itu nanti pada saat yang tepat, pasti akan terpenuhi.
 
Kamu bukan cacat yang tak bisa kembali seperti semula. Kamu itu berkembang semakin baik, maka dari itu kamu tidak sama seperti dulu.

Untuk semua sakit yang belum terlupa.
Untuk semua resah yang belum hilang.
Untuk semua takut yang belum punah.

Kalau memang kalian sulit pergi, maka jangan lupa.
Jangan hilang.
Jangan punah.

Aku bisa tahan dengan diriku. 
Dan ingatan tentang bahagiaku yang baru.
Dan keyakinan tentang prinsipku yang segar.
Dan keberanian menatap peluangku berikutnya.


Read More

Rabu, Oktober 09, 2019

Kenapa, Nak.

"Terkadang kekhawatiran yang berlebihan malah tidak terjadi."

Aku lihat kemarin raut wajahnya, cemas menunggu anak semata wayangnya tak kunjung pulang. Menengok keluar pagar ketika ada motor yang melaju semakin pelan. "Kukira kau nak, ternyata bukan."

Aku lihat kemarin jemari tangannya tak bisa diam, saling bertaut seperti tak mau dipisahkan. Eh, kadang dipisahkan, untuk memegangi lengannya persis seperti tanda orang kedinginan. Sesekali kaget menoleh jika ada orang jalan kaki yang melewati rumahnya. "Kukira kau kebingungan tak bisa pulang, hingga memutuskan jalan kaki, ternyata bukan."

Aku lihat kemarin lantai yang sebelumnya bersih karna selesai di pel, kok cepat sekali sudah kotor lagi, agak basah dan jejak kaki dimana-mana. Banyak jejak kaki, tapi hanya ada satu orang ibu usia kisaran 40 tahunan. Dari mana lagi asal jejak kaki itu kalau bukan karna beliau yang jalan-jalan, mondar-mandir keluar dan masuk meski tau diluar sedang rintik dia tetap menerobos. Melihat anak-anak berlarian bermain hujan. "Kukira kau tengah kedinginan karna hujan nak, ternyata bukan."

Resah yang tak bisa ia sembunyikan, hujan yang tak bisa ia hentikan, kekhawatiran yang tak dapat ia terjemahkan, lelah yang tak lagi ia rasakan, mengantuk yang tak dapat terpejam, lapar yang tiba-tiba penuh sesak kecemasan.
"Kenapa kau tak kunjung pulang, nak."

Read More

Minggu, September 15, 2019

25 Agustus 2019

Apa yang bisa dijelaskan dari ini?
Kami bertemu lagi dengan adik-adik dari Al Hidayah.
Dan bertemu lagi dengan diri kami yang lain, diluar rutinitas.























Read More

Social Profiles

Twitter Google Plus LinkedIn RSS Feed Email

Download

Apapun proses yang tengah kamu jalani, percaya deh! Kamu hebat :)

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Angka Hoki

Cari Blog Ini

Translate

Laman

BTemplates.com

About

Copyright © Here I Am | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com