Kamu punya caramu. Ini caraku. - Nyovika

Senin, November 19, 2018

Random Malam

Kurangi membaca quotes.

Hidupmu ini kamu jalani secara utuh dari hidup sampai mati nanti, nggak cocok kalau kamu menyandingkan perjalananmu dengan 'quotes' yang sepenggal-sepenggal.

Hidupmu ini berlangsung puluhan tahun, nggak seharusnya kamu bercermin pada 'quotes' yang cuma satu sampai dua baris.

Hidupmu ini tidak sempurna, janganlah dibandingkan dengan 'quotes' yang sering tampak sempurna.

Kurangi membandingkan dirimu dengan kutipan-kutipan pendek yang kamu temui di media sosial atau buku yang kamu baca hanya beberapa lembar halamannya.

Mungkin mendingan membaca satu buku utuh. Artikel yaang jelas, tidak setengah-setengah.
Mungkin itu bisa menghalangimu berpikir sempit, membantu berpikir lebih lebar.
Berhenti membanding-bandingkan, jadi realistis.
Membatasi imajinasimu, agar tak terlewat dan jadi kurang bersyukur. 


Read More

Jumat, Oktober 26, 2018

Semut Semut Kecil

"Mari coba belajar kepada semut. Mereka punya pembagian pekerjaan yang rapi. Siapa yang menjadi tentara, siapa yang bertugas sebagai petani dan seterusnya dilaksanakan tanpa ada menteri tenaga kerja seperti manusia yang mengatur. Kerapian ini terwujud agar terjadi keseimbangan cuaca komunal.
Keseimbangan ini ditopang oleh dua syariat sederhana yang semut tidak memahaminya. Mereka hanya menjalaninya secara istiqomah, yaitu silaturahmi dan berani menjadi."

Tulisan diatas adalah kutipan yang saya baca dari www.caknun.com

Beberapa waktu yang lalu saya mendengarkan ceramah dan obrolan orang di malam hari yang cukup menyisakan quotes dikepala saya. Sudah agak lama memang saya mendengarnya, dan saya ingin lebih lama lagi mengingatnya dengan menuliskannya disini.

Ini beberapa diantaranya yang saya ingat,

"Kita disekolahkan untuk menjadi sapi, padahal kita sudah menjadi semut"

"Semut kalah sama kapur ajaib? Bukan, semut itu toleran dengan manusia, ngalah."

"Untuk belajar tentang F, jangan langsung ke F. Belajar A dulu, lalu B, C, D, baru F."

"Air bisa dipecah karna membeku. Minyak itu cair, nggak bisa dihancurkaan."

"Yok opo isok nggoreng nek nggak kenal minyak."

"Sukses itu bukan ketika ada dipuncak. Tetapi puncak adalah alat untuk mensejahterakan orang lain."



Read More

Kamis, Oktober 25, 2018

Mungkin Nanti, Mungkin Nantinya Lagi

Yang sudah ditutup belum tentu selamanya akan tertutup.
Yang dianggap tenggelam belum tentu hilang.
Yang terlihat surut nantinya akan pasang lagi.

Sedang menulis tentang apa?
Tentang sesuatu yang nantinya akan muncul lagi, akan bangkit lagi.
Bukan karna keinginan yang menggebu, tetapi karna itu yang memang seharusnya terjadi.

Jadi kemunculannya untuk apa?
Jadi kebangkitannya untuk apa?
Jadi apa akan kutulis jawabannya?
Kurasa tidak sekarang, cukup dilihat bagaimana jadinya nanti.




Read More

Senin, Oktober 08, 2018

Pagi Senin

Pagi.

Banyak rasa-rasa untuk hari Senin. Termasuk senin sekarang, rasanya kayak cappuccino dingin yang belum diminum.
Ya gitu maksudnya belum ngerti rasa sebenarnya karna belum diminum, tapi udah ngebayangin sendiri cappuccino dingin itu kayaknya ga semenarik kalau panas. Udah nggak mood minum aja pikirannya.

Berharap semoga hari ini baik, dan hari berikutnya semakin baik lagi, semakin baik lagi.
Ini kutulis berdasarkan keresahan tiap hari senin sebenarnya, memulai hari yang biasanya agak ramai dari hari setelahnya.

Semangat senin. Jangan lupa baca Al Fatihah.
Kata mbah Tedjo, kalau orang baca Al-Fatihah tanpa putus terus-menerus, insyaallah kenginannya akan terwujud.

Fyuh.
Read More

Jumat, Oktober 05, 2018

[Buku] Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Iqra' artinya bacalah. Gitu aja sudah bisa jadi motivasi seseorang buat membaca. Iya, karna dibilangin gitu.
Siapa yang dibilangin gitu?
Ya adalah pokoknya.

Buku berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas ini adalah buku ketiga karya Eka Kurniawan yang pernah saya baca. Saya baca yang cetakan ulang dengan sampul barunya. Sebelumnya saya pernah membaca buku beliau yang berjudul Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau.



Dari pengalaman membaca saya sampai buku ketiga ini, saya rasa cara seorang Eka Kurniawan dalam bercerita lewat tulisannya cukup bisa dikenali, ada ciri khas dalam tulisannya. Juga menurut saya, novel ini memiliki penulisan yang rapi, bahasa yang mudah dipahami, nggak panjang-panjang penjelasannya tapi bisa diterima sama akal. Kalau dibandingkan dengan dua novel beliau yang saya pernah baca, sepertinya ini yang paling tidak panjang-panjang kalimatnya.

Eka Kurniawan memiliki gaya bercerita yang aku sebut nggak jual mahal, berani mengungkap yang mungkin beberapa orang ragu atau malu untuk menulisnya, dan kadang orang berpikir memang itu nggak perlu diungkap, tapi beliau mampu menjadikannya sebuah sajian cerita yang nggak canggung untuk dibaca. Novel ini termasuk salah satu novel yang isinya satir, ada lucunya, ada bijaknya. Dengan konflik yang cukup rumit sebenarnya, tapi bahasanya oke aja gitu masuk ke kepala, nggak bikin pusing.

Yap awal mula tokoh yang diceritakan dalam novel ini yaitu Ajo Kawir dan Si Tokek dimana mereka adalah teman baik yang suka mencari hal baru, suka berantem, nakal gitu. Suka ngintipin orang 'pacaran'. Sampai suatu hari Si Tokek ngajak Ajo Kawir untuk ngintip Rona Merah, perempuan gila yang ditinggal mati suaminya, dia tinggal sendirian namun malam itu dia tengah akan diperkosa dua orang polisi yang mungkin punya batas 'gila'nya sendiri, tidak bisa menahan birahinya sampai memutuskan memerkosa janda gila. Ya Si Tokek dan Ajo Kawir nonton peristiwa itu dengan burung yang sama-sama aktif.

Namun sialnya Ajo Kawir ketahuan dan disuruh terjun langsung ke Rona Merah, saya kira ceritanya akan membawa pada kejadian Ajo Kawir maju mengikuti jejak polisi (memerkosa si janda), ternyata tidak. Malah sejak saat itu terjadi, burungnya enggan berdiri, enggan mengeras lagi entah kenapa dan entah sampai kapan.

Banyak usaha di laluinya, juga dengan bantuan orang-orang yang amat dia percaya, demi membangunkan burungnya kembali.

"Lelaki yang tak bisa menyetubuhi perempuan seperti belati berkarat. Tak bisa dipakai untuk memotong apapun" Halaman 62

Rasa putus asanya yang sangat dalam sempat terobati sampai dia bertemu Iteung perempuan yang dia cintai dan mencintainya teramat. Sampai mereka menikah, Iteung tak menunjukkan keinginan besarnya pada burung yang bangun dan lincah, dia cukup bahagia dengan jari-jari Ajo Kawir. Begitu juga Ajo Kawir cukup bahagia dengan Iteung yang menerima dia apa adanya.

Sampai akhirnya konflik terjadi pada rumah tangganya membuka halaman bahwa Iteung tak setia, bahkan hamil buah orang lain. Cintanya putus, hidupnya putus, namun Ajo Kawir tak mati.

Pelampiasannya pada perkelahian, maunya ngajakin orang berantem, maunya bunuh orang. Sampai ada tawaran membunuh orang yang menghasilkan uang, dia terima. Namun ternyata setelah tuntas melayangkan nyawa pun, hidupnya belum juga tersambung. Iteung tak pernah mudah dilupakan. Burungnya belum juga mau bangun.

"Hidup dalam kesunyian. Tanpa kekerasan, tanpa kebencian. Aku berhenti berkelahi untuk apapun, aku mendengar apa yang diajarkan Si Burung." Halaman 123

Ajo Kawir memilih jalan hidupnya sendiri, dengan pindah kota dan memulai hidup barunya dengan menjadi supir truk andalan. Ditemani seorang kenek dan sebuah foto kesukaan yang selalu dipajang di dalam truknya. Yaitu foto seorang anak perempuan kecil, buah Iteung dan orang lain (foto yang didapatkan dari Si Tokek). Ajo Kawir menatapnya tiap hari bahkan dalam lubuk hatinya mengharap pertemuan. Padahal itu bukan anaknya kan. Hm.

Dia mengubah dirinya menjadi lebih nriman. Menerima keadaan, ikhlas, belajar ketenangan dari burungnya.

Merasa penasaran saya ingin tau apakah Ajo Kawir akan kembali pada Iteung? Apakah Iteung cukup punya kelebihan malu untuk mencari Ajo Kawir? Hm, saya anggap Iteung jahat pada Ajo Kawir.
Apakah Ajo Kawir akan mendapat akhir bahagia dihidupnya? Apakah burung akan bangun atau tidur selalu? Apakah kebahagiaan bagi Ajo Kawir harus selalu tentang burung yang bangun? Apa dia menemukan hal lain yang lebih berarti daripada memikirkan burung panutannya yang tidak bangun-bangun?

Penasaran demi penasaran mengantarkan saya tuntas membaca buku ini dengan perasaan "..."

Hehe kalian akan rasain sendiri kalau baca sampai selesai.

Banyak yang bisa saya ambil dari cerita ini.
Beberapa diantaranya, seorang Ajo Kawir yang menunjukkan prosesnya dari anak kecil yang tak suka berpikir panjang lama-lama mengolah dirinya menjadi seorang yang sabar dan tak banyak menuntut pada dirinya serta pada orang lain.

Juga kisah persahabatan yang solid antara Ajo Kawir dan Si Tokek akan banyak ditemukan ketika membaca utuh novel ini. Aku sempat kagum pada Si Tokek di beberapa bagian tentang perilakunya yang manis. Lewat dukungannya, usahanya, dan konsistennya. Dimana didalam sini walaupun mereka bisa dibilang orang bandel, tapi mereka cukup tulus.

Juga tentang pendirian yang kuat pada tokoh-tokoh yang diceritakan. Kepedulian Ajo Kawir pada orang lain, membela orang yang menurutnya benar. Suka dengan hasil tulisan Eka Kurniawan ini.

Lagi, Eka Kurniawan memang cerdas dalam memposisikan alur loncat maju mundur yang tajam, tapi tidak membuat saya menyerah dalam membacanya. Karna walaupun alur maju mundur saya nggak bingung.
Juga ceritanya yang ada tentang seks-seks nya gitu, tapi nggak vulgar yang berlebihan. Maksudnya nggak bikin 'enek' kalau dibaca. 

Dan terakhir, buku ini membuat saya ingin membaca buku-buku Eka Kurniawan yang lainnya. 




Read More

Social Profiles

Twitter Google Plus LinkedIn RSS Feed Email

Download

Apapun proses yang tengah kamu jalani, percaya deh! Kamu hebat :)

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Random Malam

Kurangi membaca quotes. Hidupmu ini kamu jalani secara utuh dari hidup sampai mati nanti, nggak cocok kalau kamu menyandingkan perjalanan...

Followers

Angka Hoki

Cari Blog Ini

Translate

Laman

BTemplates.com

About

Copyright © Here I Am | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com