Kamu punya caramu. Ini caraku. - Nyovika

Senin, Oktober 08, 2018

Pagi Senin

Pagi.

Banyak rasa-rasa untuk hari Senin. Termasuk senin sekarang, rasanya kayak cappuccino dingin yang belum diminum.
Ya gitu maksudnya belum ngerti rasa sebenarnya karna belum diminum, tapi udah ngebayangin sendiri cappuccino dingin itu kayaknya ga semenarik kalau panas. Udah nggak mood minum aja pikirannya.

Berharap semoga hari ini baik, dan hari berikutnya semakin baik lagi, semakin baik lagi.
Ini kutulis berdasarkan keresahan tiap hari senin sebenarnya, memulai hari yang biasanya agak ramai dari hari setelahnya.

Semangat senin. Jangan lupa baca Al Fatihah.
Kata mbah Tedjo, kalau orang baca Al-Fatihah tanpa putus terus-menerus, insyaallah kenginannya akan terwujud.

Fyuh.
Read More

Jumat, Oktober 05, 2018

[Buku] Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Iqra' artinya bacalah. Gitu aja sudah bisa jadi motivasi seseorang buat membaca. Iya, karna dibilangin gitu.
Siapa yang dibilangin gitu?
Ya adalah pokoknya.

Buku berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas ini adalah buku ketiga karya Eka Kurniawan yang pernah saya baca. Saya baca yang cetakan ulang dengan sampul barunya. Sebelumnya saya pernah membaca buku beliau yang berjudul Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau.



Dari pengalaman membaca saya sampai buku ketiga ini, saya rasa cara seorang Eka Kurniawan dalam bercerita lewat tulisannya cukup bisa dikenali, ada ciri khas dalam tulisannya. Juga menurut saya, novel ini memiliki penulisan yang rapi, bahasa yang mudah dipahami, nggak panjang-panjang penjelasannya tapi bisa diterima sama akal. Kalau dibandingkan dengan dua novel beliau yang saya pernah baca, sepertinya ini yang paling tidak panjang-panjang kalimatnya.

Eka Kurniawan memiliki gaya bercerita yang aku sebut nggak jual mahal, berani mengungkap yang mungkin beberapa orang ragu atau malu untuk menulisnya, dan kadang orang berpikir memang itu nggak perlu diungkap, tapi beliau mampu menjadikannya sebuah sajian cerita yang nggak canggung untuk dibaca. Novel ini termasuk salah satu novel yang isinya satir, ada lucunya, ada bijaknya. Dengan konflik yang cukup rumit sebenarnya, tapi bahasanya oke aja gitu masuk ke kepala, nggak bikin pusing.

Yap awal mula tokoh yang diceritakan dalam novel ini yaitu Ajo Kawir dan Si Tokek dimana mereka adalah teman baik yang suka mencari hal baru, suka berantem, nakal gitu. Suka ngintipin orang 'pacaran'. Sampai suatu hari Si Tokek ngajak Ajo Kawir untuk ngintip Rona Merah, perempuan gila yang ditinggal mati suaminya, dia tinggal sendirian namun malam itu dia tengah akan diperkosa dua orang polisi yang mungkin punya batas 'gila'nya sendiri, tidak bisa menahan birahinya sampai memutuskan memerkosa janda gila. Ya Si Tokek dan Ajo Kawir nonton peristiwa itu dengan burung yang sama-sama aktif.

Namun sialnya Ajo Kawir ketahuan dan disuruh terjun langsung ke Rona Merah, saya kira ceritanya akan membawa pada kejadian Ajo Kawir maju mengikuti jejak polisi (memerkosa si janda), ternyata tidak. Malah sejak saat itu terjadi, burungnya enggan berdiri, enggan mengeras lagi entah kenapa dan entah sampai kapan.

Banyak usaha di laluinya, juga dengan bantuan orang-orang yang amat dia percaya, demi membangunkan burungnya kembali.

"Lelaki yang tak bisa menyetubuhi perempuan seperti belati berkarat. Tak bisa dipakai untuk memotong apapun" Halaman 62

Rasa putus asanya yang sangat dalam sempat terobati sampai dia bertemu Iteung perempuan yang dia cintai dan mencintainya teramat. Sampai mereka menikah, Iteung tak menunjukkan keinginan besarnya pada burung yang bangun dan lincah, dia cukup bahagia dengan jari-jari Ajo Kawir. Begitu juga Ajo Kawir cukup bahagia dengan Iteung yang menerima dia apa adanya.

Sampai akhirnya konflik terjadi pada rumah tangganya membuka halaman bahwa Iteung tak setia, bahkan hamil buah orang lain. Cintanya putus, hidupnya putus, namun Ajo Kawir tak mati.

Pelampiasannya pada perkelahian, maunya ngajakin orang berantem, maunya bunuh orang. Sampai ada tawaran membunuh orang yang menghasilkan uang, dia terima. Namun ternyata setelah tuntas melayangkan nyawa pun, hidupnya belum juga tersambung. Iteung tak pernah mudah dilupakan. Burungnya belum juga mau bangun.

"Hidup dalam kesunyian. Tanpa kekerasan, tanpa kebencian. Aku berhenti berkelahi untuk apapun, aku mendengar apa yang diajarkan Si Burung." Halaman 123

Ajo Kawir memilih jalan hidupnya sendiri, dengan pindah kota dan memulai hidup barunya dengan menjadi supir truk andalan. Ditemani seorang kenek dan sebuah foto kesukaan yang selalu dipajang di dalam truknya. Yaitu foto seorang anak perempuan kecil, buah Iteung dan orang lain (foto yang didapatkan dari Si Tokek). Ajo Kawir menatapnya tiap hari bahkan dalam lubuk hatinya mengharap pertemuan. Padahal itu bukan anaknya kan. Hm.

Dia mengubah dirinya menjadi lebih nriman. Menerima keadaan, ikhlas, belajar ketenangan dari burungnya.

Merasa penasaran saya ingin tau apakah Ajo Kawir akan kembali pada Iteung? Apakah Iteung cukup punya kelebihan malu untuk mencari Ajo Kawir? Hm, saya anggap Iteung jahat pada Ajo Kawir.
Apakah Ajo Kawir akan mendapat akhir bahagia dihidupnya? Apakah burung akan bangun atau tidur selalu? Apakah kebahagiaan bagi Ajo Kawir harus selalu tentang burung yang bangun? Apa dia menemukan hal lain yang lebih berarti daripada memikirkan burung panutannya yang tidak bangun-bangun?

Penasaran demi penasaran mengantarkan saya tuntas membaca buku ini dengan perasaan "..."

Hehe kalian akan rasain sendiri kalau baca sampai selesai.

Banyak yang bisa saya ambil dari cerita ini.
Beberapa diantaranya, seorang Ajo Kawir yang menunjukkan prosesnya dari anak kecil yang tak suka berpikir panjang lama-lama mengolah dirinya menjadi seorang yang sabar dan tak banyak menuntut pada dirinya serta pada orang lain.

Juga kisah persahabatan yang solid antara Ajo Kawir dan Si Tokek akan banyak ditemukan ketika membaca utuh novel ini. Aku sempat kagum pada Si Tokek di beberapa bagian tentang perilakunya yang manis. Lewat dukungannya, usahanya, dan konsistennya. Dimana didalam sini walaupun mereka bisa dibilang orang bandel, tapi mereka cukup tulus.

Juga tentang pendirian yang kuat pada tokoh-tokoh yang diceritakan. Kepedulian Ajo Kawir pada orang lain, membela orang yang menurutnya benar. Suka dengan hasil tulisan Eka Kurniawan ini.

Lagi, Eka Kurniawan memang cerdas dalam memposisikan alur loncat maju mundur yang tajam, tapi tidak membuat saya menyerah dalam membacanya. Karna walaupun alur maju mundur saya nggak bingung.
Juga ceritanya yang ada tentang seks-seks nya gitu, tapi nggak vulgar yang berlebihan. Maksudnya nggak bikin 'enek' kalau dibaca. 

Dan terakhir, buku ini membuat saya ingin membaca buku-buku Eka Kurniawan yang lainnya. 




Read More

Sabtu, September 29, 2018

[Buku] Sebuah Kitab Yang Tak Suci

Hai.

Di hari-hari terakhir bulan September ini, nggak tau kenapa buku karya Phutut EA jadi buku pertama yang ingin saya bahas dalam blog saya. Nggak direncanakan juga sih sebelumnya mau bahas buku ini. Entah ini namanya review atau bukan. Tapi intinya saya pingin bahas aja. Hehe.

Buku Mojok

Buku ini cukup menarik perhatian saya, dari halaman pertama. Setiap kalimat yang digunakan menurut saya memiliki penataan kata yang cukup cerdas, dan awal cerita yang diluar biasanya membuat saya mudah menghabiskan waktu untuk terus membaca.

Jujur dari sampul cukup menipu, terlihat ringan dangan gaya animasi khas terbitan Mojok, padahal isinya sungguh berarti nggak kayak cerpen-cerpen yang saya pernah baca sebelumnya, iya, isinya nggak seringan sampulnya. Dari yang saya tau Phutut EA adalah seorang yang kelihatannya sangat kritis dan entah kenapa saya berpikiran nantinya akan sulit memahami buku-buku karya beliau.
Ya, saya pengikut Phutut EA di twitter dan instagram. Saya cukup mengira bahwa nantinya karya beliau akan ada sentilan-sentilan politik, serta kata-kata yang sarat makna.

Buku ini adalah buku karya Phutut EA pertama yang saya pernah baca. Dan saya rasa beliau berhasil menjadi salah satu penulis yang namanya akan membekas dalam kepala saya.

Buku ini berisi kumpulan cerpen, yang didalamnya terdapat 10 judul cerpen yang sekali lagi saya bilang diluar biasanya (setiap judul cerpennya). Pada setiap jalan cerita cerpennya menampakkan watak tokoh yang sulit ditebak jalan pikirannya. Namun dipadukan dengan bahasa yang masih bisa dicerna, dan lagi dengan akhir yang sulit ditebak.

Judul yang masih terngiang didalam kepala saya salah satunya Mencari Tangisan Pertama, dimana menceritakan seorang bajingan berlimpah materi yang mencari dan terus berusaha menemukan sesosok ibu bahkan berusaha menciptakan seorang ibu demi ingin merasakan bagaimana rasanya dilahirkan dan menangis untuk pertama kali. Yang jelas ini antimainstream, dan memendam arti, apalagi pembacanya beragam, mungkin akan berbeda apa yang saya pikirkan ketika membaca ini, dan apa yang kalian pikirkan ketika membacanya.
Ada lagi yang berjudul Kita Yang Menuju Diam, dimana setiap kepergian tak selalu berujung pulang. Dengan penjelasan dalam cerita yang menurut saya panjang tapi tidak berbelit-belit, nyaman dibaca.
Lalu cerpennya yang berjudul Rahim Itu Berisi Cahaya, dimana ketika saya membaca ini, saya paham bahwa manusia berpikirnya tidak statis, melainkan berubah-berubah dengan alasan beragam dan kadang diluar nalar.
Terakhir bocoran, semoga bukan spoiler namanya. Yaitu cerpen yang berjudul Si Pemungut Mimpi, cerita seseorang yang pergi lama sekali hingga kembali ke kampungnya dan memceritakaan banyak hal tentang mimpi kepada banyak orang hingga hal yang mengejutkan terjadi. Cerita yang sulit jadi kuno termakan waktu, walau nantinya akan ada cerpen-cerpen baru, karna pembahasan tentang mimpi dan rantau disini ini memunculkan latar dan bahan yang saya suka, juga susana yang nggak terlalu masuk akal tapi juga nggak berlebihan.

Udah, selain itu sebenarnya hampir semua judul menyisakan pengalaman membaca yang baru bagi saya. Walaupun untuk beberapa bagian, saya perlu baca bolak-balik agar paham. Dan bagian lain saya cukup jengkel karna saya gagal paham sama maksudnya. Tapi itu malah yang membuat saya mikir, jangan buru-buru dalam membaca, belajaro sabar vik, nggak semua orang bisa cepat dalam memahami isi buku, nikmatin aja pelan-pelan. Ojok gupuh men.


Suasana mati. Jangan sekali lagi berpikir bahwa hal itu adalan malam hari, jauhkan itu jika tidak ingin tersesat tentang suatu pengetahuan. Halaman 11
Read More

Kamis, September 13, 2018

Masih?

Sudah berapa kali kau putuskan asanya?
Sudah berapa kali kau lihatnya sesak tahan air mata?
Sudah berapa kali menyesal minta ampun berulang? Orang kok susah dibilangi.
 
*

Mata merah yang tiap pagi kulihat karna kurang tidur, akibat seringnya terbangun tak direncanakan tengah malam. Pagi ini berbeda, merahnya berkaca. Aku sedikit takut menatapnya. Bukan sedikit, aku takut menatapnya. Hatiku kelewat kurang mantap saat bangun tidur belum sepenuhnya membuka mata, dalam remang mataku sendiri aku melihat buram tatapan matanya yang berkaca hampir berair.

Salah siapa lagi kalau bukan si orang tidak tau di untung, aku.

Apa susahnya turuti kata-katanya? Dengan modal keras kepala dan tuntutan agar diri bisa berhasil. Apapun dilawan, termasuk rasa khawatirnya.
Apapun bisa berhasil asal aku berusaha, bukan asal aku melukai hatinya.
Bukankah aku ingat hatinya terlampau lembut, sampai karna sms tidak dibalas saja dia sudah sedih, khawatir, susah tidur.
Lalu masih lagi membuatnya remuk? Dia itu rapuh.
Rapuh yang menguatkan.
Suara berisik yang menenangkan tidur.
Tak bosan bangun sebelum fajar tampak, demi makan siangku, yang diam-diam diselipinya dengan harap dan doa.

Masih?
Kamu tak biasa mengiyakan hal-hal yang membuatnya tenang.
Mulai biasakan.
Jangan jahat.





Read More

Rabu, September 05, 2018

Again

When was the last time you did something for the first time?

Again.

Suasana yang aku baru tau dari sebelum-sebelumnya. Tempat yang berbeda dari biasanya. Orang-orang baru yang aku temui. Hal berbeda yang aku lakukan.

Banyak orang kreatif di luar sana, aku masih nggak ada apa-apanya, sekuku kelingkingnya pun belum. Hehe

Masih lambat, kurang belajar, kebanyakan tidur.
Ada yang bisa aku ambil jadi pelajaran, bahwa harus nyempetin sedikit-sedikit waktu untuk satu hal yang kamu sukai atau yang kamu ingin lakukan. Nggak harus satu, lebih juga boleh.

Dari mereka, aku lihat langsung efek dari 'terbiasa melakukan'.
Gerakan mereka cepat, nggak banyak mikir. Hemat waktu. Luwes. Nggak kaku.
Dari mereka aku dengar langsung, bahwa kecepatan mereka yang sekarang, dulunya butuh belajar pelan-pelan dan detail. Hemat waktunya mereka sekarang, perlu waktu lama dan berulang-ulang praktek, latihan, praktek, latihan.

Aku beruntung bisa ada pada kesempatan ini.
Mereka orang-orang yang kompeten dibidangnya keliatan rapi dan matang dalam bekerja.

Terus untuk beberapa komentar orang yang bilang kamu sok sibuk dengan hal yang nggak berhubungan dengan pekerjaan dan rutinitasmu sekarang. Jangan terlalu di ambil pusing.
Kamu nggak harus peduli sama semua orang, cukup peduli sama orang seperlunya aja. Karna mau peduli sama semua orang juga nggak mungkin, kebanyakan. Apalagi orang yang nggak pro sama kamu, nggak mendukung, nggak ngasih pendapat yang membangun. Dengerin aja sambil senyum-senyum. Kalau nggak sempat senyum ya sinisin aja dikit. Nggak papa.

Beralihlah ke orang-orang yang punya energi positif. Yang mendorong kamu untuk bebas berpikir dan mengekspresikan ide.
Yang nggak berusaha mengenali kamu dari luarnya aja.
Tapi yang yakin kalau kamu bisa. Apapun yang kamu lakukan asal diasah terus pasti akan jadi lebih tajam.
Dan usahamu usahakan jangan setengah-setengah. Biar hasilnya juga utuh nggak setengah.

Stop curhat atau membagi keluh kesah sama orang-orang yang responnya malah menjatuhkan kamu. Itu nggak selalu berarti karna kamu nggak bisa menerima kritik.
Tapi memang untuk saat ini butuh lebih banyak hal baik untuk dibangun jadi tembok kamu, semakin banyak omongan baik yang datang di kamu akan semakin kuat tembok kamu. Sampai akhirnya nanti seberapa banyak pun kritik yang datang atau celaan yang menjatuhimu, kamu nggak akan gampang runtuh.

Bener. Itu bisa jadi salah satu cara untuk membentengi diri kamu sendiri.
Sekarang kamu perlu lebih banyak praktek. Dan luangin waktu buat nonton video tutorial.

Bangun pikiranmu. Bangun kemampuanmu serapi mungkin. Kalau kamu sudah biasa rapi, maka kamu jadi nggak mudah membuat sesuatu jadi berantakan.
1&2 September 2018

"Jika pikiran saya bisa membayangkannya, hati saya bisa meyakininya, saya tau saya akan mampu menggapainya."
Jesse Jackson

Read More

Social Profiles

Twitter Google Plus LinkedIn RSS Feed Email

Download

Apapun proses yang tengah kamu jalani, percaya deh! Kamu hebat :)

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Pagi Senin

Pagi. Banyak rasa-rasa untuk hari Senin. Termasuk senin sekarang, rasanya kayak cappuccino dingin yang belum diminum. Ya gitu maksudnya b...

Followers

Angka Hoki

Cari Blog Ini

Translate

Laman

BTemplates.com

About

Copyright © Here I Am | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com